Minggu, 03 Juli 2016

Pemimpin Muslim Jelas Lebih Baik dari Pemimpin Kafir

Istilah Pemimpin Kafir yang Jujur Lebih Baik adalah Propagada Berbahaya
Rabu, 13 April 2016 - 10:07 WIB
Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB) tersebut mengajak seluruh elemen masyarakat, khususnya warga Jakarta untuk berhati-hati dalam urusan memilih pemimpin
Istilah Pemimpin Kafir yang Jujur Lebih Baik adalah Propagada Berbahaya
Guru Besar IPB dan mantan Ketua Umum BAZNAS. Prof. Dr. KH. Didin Hafidhuddin

Hidayatullah.com–Pemimpin Islam yang baik adalah fakta. Hal itu terbukti sejak zaman para sahabat Nabi dan bisa ditemui hingga sekarang di beberapa wilayah Nusantara.
Demikian ditegaskan oleh Wakil Ketua Dewan Pertimbangan (Wantim) Majelis Ulama Indonesia (MUI), Prof. Dr KH. Didin Hafidhuddin di Masjid al-Hijri II Bogor, Selasa (13/04/2016).
Menurut Kiai Didin, hal ini harus disampaikan ke masyarakat menjelang Pemilihan Gubernur (Pilgub) DKI Jakarta dan untuk menepis anggapan bahwa tidak ada figur pemimpin Islam yang baik.
“Kalau pemimpin Islam berhasil itu fakta sedang pemimpin kafir berhasil itu pencitraan saja. Tidak ada itu,” ucap Kiai Didin sambil menyebut beberapa kepala daerah Muslim yang berhasil mengemban amanah mereka.
Di hadapan puluhan mahasiswa dan dosen UIKA, sebagai seorang Muslim, Kiai Didin mengaku kecewa atas propaganda sebagian media yang mengatakan lebih baik pilih pemimpin kafir yang jujur daripada pemimpin Muslim yang korupsi.
“Ini sudah keterlaluan. Siapa bilang pemimpin kafir itu jujur? Siapa bilang semua pemimpin Muslim itu tidak baik?”   tolak Pengasuh Pondok Pesantren Mahasiswa dan Sarjana (PPMS) Ulil Albab Bogor dengan nada tanya.
Untuk itu Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB) tersebut mengajak seluruh elemen masyarakat, khususnya warga Jakarta untuk berhati-hati dalam urusan memilih pemimpin.
“Jadi ini bukan sekadar yang penting bukan Ahok lagi. Tapi harus jelas bahwa pemimpin kita itu pemimpin Muslim yang taat agama dan keluarganya baik,” lanjut Kiai Didin memberi arahan.
“Kalau salah maka dia jadi bumerang lagi yang makin melemahkan umat Islam,” imbau Ketua Dekan Pascasarjana Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor tersebut.
Terakhir, Kiai Didin berharap kaum Muslimin bisa bersatu mengutamakan maslahat umat yang lebih besar daripada kepentingan kelompok atau golongan tertentu.
“Mari terus mendukung perjuangan ini, setidaknya dengan doa-doa dari umat Islam. Semoga Jakarta secara khusus bisa dipimpin oleh pemimpin Muslim yang taat beragama,” tutup Kiai Didin.*/Masykur
Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar


Hidayatullah.com–“Kiai Bahtiar Nasir pantas menangis memiliki gubernur seperti Ahok,” kata pengamat media Adian Husaini, dalam acara Ulasan Media di Radio Dakta 107 FM, Selasa (12/04/2016) pagi.
Seperti diberitakan sejumlah media, Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama mengaku, dirinya menyimpan banyak jenis minuman di kulkas rumahnya, termasuk minuman keras.
Tetapi, katanya, itu bukan untuk diminum sendiri, melainkan untuk menjamu para tamu, termasuk tamu asing.  Hal itu disampaikan Ahok menanggapi ramainya berita yang menampilkan foto minuman keras di meja makan rumahnya pada jamuan makan malam dengan para tim pendukungnya, Jumat (08/04/2016) malam.
“Kamu mau wine, mau bir, mau sirup, mau jus, kulkas saya penuh. Jadi, Anda kalau mau bir, mau apa, silakan kalau datang bertamu di rumah saya,” kata pria yang biasa disapa Ahok ini di Balai Kota, Senin (10/4/2016) dikutip laman Kompas.
Beberapa hari sebelumnya, tentang saham Pemda DKI di perusahaan bir disinggungg Ahok. Ia mengatakan: “Kami punya saham, lanjut saja. Bir salahnya di mana sih? Ada enggak orang mati karena minum bir? Orang mati kan karena minum oplosan cap topi miring-lah, atau minum spiritus campur air kelapa. Saya kasih tahu, kalau kamu susah kencing, disuruh minum bir, lho,” kata Ahok.
Persisnya tentang pernyataan Ahok tersebut, Adian menyatakan, “Sepatutnya Ahok tahu diri dan punya perasaan, bahwa rakyatnya 80 persen Muslim. Pernyataan itu sangat sombong, angkuh, mentang-mentang sedang berkuasa,” kata Adian Selasa (12/04/2016) di acara Ulasan Media.
Adian juga menyatakan keyakinannya, bahwa para ulama di Jakarta semakin menjerit batinnya; mendengar dan menyimak pernyataan Ahok soal minuman keras seperti itu.
“Saya bisa memahami jika Kiai Bahtiar Nasir, Kiai Abdul Rosyid Abdullah Syafii, dan para ulama Jakarta lainnya menangis dan menjerit batinnya,” lanjut Adian.
Adian mengkritik logika Ahok.  “Memang minum bir tidak mati. Makan babi juga tidak mati. Makan duit korupsi juga tidak mati. Kenapa logika seperti ini yang dimainkan?”
Sepatutnya, saran Adian, Ahok tahu sopan santun. Tidak perlu menantang-nantang umat Islam dalam soal miras seperti itu.
Apalagi, lanjut Adian, pada saat yang sama, media massa memuat berita tentang Kebijakan Gubernur Papua yang melarang produksi dan peredaran miras di seluruh Papua.
Meskipun mayoritas rakyatnya beragama Kristen, Gubenur Papua memahami dampak buruk dari minuman keras, sehingga berani mengeluarkan kebijakan yang sangat tidak mudah tersebut.
Pada akhir ulasannya, Adian mengingatkan adanya hadits Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassallam, bahwa kalau umat Islam meninggalkan aktivitas amar ma’ruf nahi munkar, maka mereka akan diberi pemimpin yang merupakan orang-orang yang paling jahat diantara mereka. Karena itu, kata Adian, umat Islam Jakarta khususnya, harus melakukan introspeksi serius, mengapa sampai diuji oleh Allah Subhanahu Wata’ala, memiliki gubenur DKI seperti itu.
Acara Ulasa Media adalah acara yang diisi Dr Adian Husaini mengudara setiap Hari Senin-Jumat di Dakta 107 FM.*/Yan, Bekasi



inilah 5 fungsi Masjid di Zaman raslullah

Inilah Lima Fungsi Masjid di Zaman Rasulullah SAW
Masjid Baiturrahman Banda Aceh

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Imam Masjid al-Istiqlal, Ali Mustafa mengatakan, terdapat lima fungsi Masjid pada zaman Rasulullah SAW. Hal ini berarti Masjid tidak hanya sebagai tempat beribadah saja seperti yang selama ini dilakukan di Indonesia.

"Ada lima fungsi, kalau tidak salah sudah pernah saya tulis di buku saya," ungkap Ali Mustafa kepada
 Republika, Selasa (24/2).

Ali Mustafa menyebutkan lima fungsi Masjid di zaman Rasulullah SAW, yakni berfungsi sebagai tempat ibadah dan pembelajaran. Selain itu, Masjid juga berfungsi sebagai tempat musyawarah, merawat orang sakit, dan asrama.
 

Pernyataan Imam Masjid al-Istiqlal ini dinyatakannya setelah rektor Uhamka mewacanakan agar fungsi Masjid dikembalikan seperti zaman Rasulullah SAW. Pada zaman Rasulullah SAW, Masjid berfungsi sebagai pusat budaya dan ilmu pengetahuan.
 

Mendengar hal tersebut, Ali pun mengakui bahwa fungsi Masjid memang demikian di zaman rasul. Dalam hal ini, lima fungsi itu dapat membantu Masjid menjadi pusat budaya dan ilmu pengetahuan.

Menurut Ali, ada beberapa fungsi yang dirasa kurang tepat untuk diterapkan zaman sekarang. Dia menegaskan, fungsi Masjid sebagai asrama tidak tepat jika dilakukan saat ini.
 

Ali juga menerangkan, pada zaman rasul, Masjid memang berfungsi sebagai asrama untuk para pelajar suffah. Hal ini berarti  sekitar 300 hingga 400 orang akan tinggal di Masjid untuk belajar. Dia menegaskan, jika kondisi ini diterapkan pada zaman sekarang dinilai kurang cocok.

Menurut Ali, jika kondisi tersebut terjadi di zaman sekarang, Ali khawatir Masjid akan menjadi tempat yang kumuh. Kecuali, dia menambahkan, asrama itu dibangun di sekitar atau di luar bangunan Masjid.
"Intinya, kelima fungsi atau aktivitas itu bisa dijalankan apabila dibangun di sekitar bangunaan Masjid. Jadi usahakan tidak menyatu dengan bangunan Masjid, "tambahnya.

Sebelumnya, rektor Uhamka mewacanakan agar fungsi Masjid dikembalikan fungsinya seperti di zaman Rasulullah SAW, yakni sebagai pusat budaya dan ilmu pengetahuan. Dia juga menyarankan agar Masjid bisa dilengkapi dengan perpustakaan dan internet.
APA MASJID ITU ?
Dari segi bahasa, masjid terambil dari akar kata sajada-sujud, yang berarti pula patuh, taat, serta tunduk dengan penuh hormat dan takzim. Sedangkan secara istilah, diartikan sebagai tempat beribadah umat Islam, khususnya dalam menegakkan sholat. Masjid juga sering disebut Baitullah (rumah Allah) yaitu bangunan yang didirikan sebagai sarana mengabdi kepada Allah.

Meletakkan dahi, kedua tangan, lutut, dan kaki ke bumi, yang kemudian dinamai sujud oleh syariat, adalah dalam bentuk lahiriyah yang paling nyata dari makna-makna di atas. Itulah sebabnya mengapa bangunan yang dikhususkan untuk melaksanakan sholat dinamakan masjid, yanga artinya “tempat bersujud”.

Dalam pengertian sehari-hari, masjid merupakan bagunan tepat sholat kaum Muslim. Tetapi, karena akar katanya mengandung makna tunduk dan patuh, hakikat masjid adalah tempat melakukan segala aktivitas yang mengandung kepatuhan kepada Allah semata.

Dengan demikian, masjid mempunyai peran dan fungsi yang luas, tidak semata untuk sholat saja. Bisa sebagai tempat menuntut ilmu (pendidikan), menyampaikan kebenaran (dakwah), memutuskan perkara kebenaran (peradilan), membantu dan tolong menolong antar sesama (sosial), membayar dan menyalurkan zakat (baitulmal-ekonomi) dan lain sebagainya.

FUNGSI MASJID PADA JAMAN ROSULULLAH (MUHAMMAD SAW)
Ketika Rosulullah SAW berhijrah ke Madinah, langkah pertama yang beliau lakukan adalah membangun Masjid kecil yang berlantaikan tanah, dan beratapkan pelepah kurma. Dari sana beliau membangun dunia ini, sehingga kota tempat beliau itu benar-benar menjadi Madinah, (seperti namanya) yang mempunyai arti harfiah “tempat peradaban”, atau paling tidak, dari tempat tersebut lahir benih peradaban baru umat manusia.

Masjid Quba’, yang pertama dibangun oleh Rosulullah SAW, menyusul Masjid Nabawi di Madinah. Dari sini kemudian dijabarkan fungsi masjid sehingga lahir peranan masjid yang beraneka ragam. Sejarah mencatat tidak kurang dari sepuluh peranan yang telah diemban oleh Masjid Nabawi, yaitu sebagai :
1.       Tempat ibadah (sholat, dzikir),
2.       Tempat konsultasi dan komunikasi (masalah sekonomi-sosial budaya),
3.       Tempat pendidikan,
4.       Tempat santunan sosial,
5.       Tempat latihan militer dan persiapan alat-alatnya,
6.       Tempat pengobatan para korban perang,
7.       Tempat perdamaian dan pengadilan sengketa,
8.       Aula dan tempat menerima tamu,
9.       Tempat menawan tahanan, dan
10.   Pusat penerangan atau pembelaan agama.

Mengapa pada masa silam masjid mampu berperan sangat luas ? hal ini disebabkan 1) Keadaan masyarakat yang masih sangat berpegang teguh kepada nilai, norma, dan jiwa agama. 2) Kemampuan  pembina-pembina  masjid  menghubungkan  kondisi sosial dan  kebutuhan  masyarakat  dengan uraian dan kegiatan masjid.

Sehingga manifestasi pemerintahan terlaksana di dalam masjid, baik pada pribadi-pribadi pemimpin pemerintahan yang menjadi imam/khatib maupun di dalam  ruangan-ruangan  masjid  yang   dijadikan tempat-tempat kegiatan pemerintahan dan syura (musyawarah).

Keadaan itu kini telah berubah, sehingga timbullah lembaga-lembaga baru yang mengambil alih  sebagian peranan masjid di masa lalu, yaitu lembaga-lembaga pemerintah maupun organisasi keagamaan lainnya. Seperti halnya telah ada Lembaga tersendiri yang mengurusi tentang pernikahan, keprajuriatan ataupun peperangan, dakwah, kesehatan, peradilan dan lain sebagainya.

Fungsi dan peran masjid secara luas seperti diatas tentunya sulit diwujudkan pada masa kini. Namun,  ini  tidak berarti bahwa masjid tidak dapat berperan di dalam hal-hal tersebut. Paling tidak perlu upaya dalam mengembalikan fungsi dan peran masjid agar lebih luas kembali di tengah-tengah masyarakat sekarang ini.

Masjid besar (khususnya) harus mampu melakukan kesepuluh peran  tadi. Paling tidak melalui uraian   para pengurusnya guna mengarahkan umat pada kehidupan duniawi dan ukhrawi yang lebih berkualitas. Tentunya sarana yang dimilikinya harus tepat, menyenangkan dan menarik semua umat, baik orang tua, dewasa, ana-anak, pria, wanita, terpelajar maupun tidak, sehat atau sakit, serta kaya atau miskin.

Di dalam Muktamar Risalatul Masjid di Makkah pada 1975, hal ini telah didiskusikan dan disepakati, bahwa suatu masjid baru dapat dikatakan berperan secara baik apabila memiliki ruangan, dan peralatan yang memadai untuk:
a.       Ruang sholat yang memenuhi syarat-syarat kesehatan,
b.      Ruang khusus wanita yang memungkinkan mereka keluar masuk tanpa bercampur dengan pria baik digunakan untuk shalat, maupun untuk Pendidikan Kesejahteraan Keluarga (PKK),
c.       Ruang pertemuan dan perpustakaan,
d.      Ruang poliklinik, dan ruang untuk memandikan dan mengkafankan jenazah,
e.      Ruang bermain, berolahraga, dan berlatih bagi remaja.

Semua hal di atas  harus  diwarnai  oleh  kesederhanaan  fisik bangunan,  namun  harus  tetap  menunjang peranan masjid ideal termaktub.

YANG TIDAK BOLEH DILAKUKAN DI DALAM MASJID
Masjid adalah milik Allah, karena itu kesuciannya harus dipelihara. Segala sesuatu yang diduga mengurangi kesucian masjid atau dapat mengesankan hal tersebut, tidak boleh dilakukan di dalam masjid maupun diperlakukan terhadap masjid.

Masjid harus mampu memberikan ketenangan dan ketenteraman pada pengunjung dan lingkungannya,  karena  itu  Rasulullah SAW. melarang adanya benih-benih pertengkaran di dalamnya, sampai-sampai beliau bersabda,
“Jika engkau mendapati seseorang menjual atau membeli di dalam masjid, katakanlah kepadanya, "Semoga Allah tidak memberi keuntungan bagi perdaganganmu,"
“dan bila engkau mendapati seseorang mencari barangnya yang hilang di dalam masjid, maka katakanlah, "Semoga Allah tidak mengembalikannya kepadamu (semoga engkau tidak menemukannya)."

Kedua teks yang disebutkan di atas tidak berarti larangan berbicara tentang perniagaan yang sifatnya mendidik umat, atau melarang para pembina dan pengelola masjid berniaga, melainkan yang dimaksud  adalah larangan melakukan transaksi perniagaan di dalam masjid.

Dengan kata lain, masjid adalah tempat ibadah dan pendidikan dalam pengertiannya yang luas.  Bukankah Al-Quran berbicara tentang segala aspek kehidupan manusia?

Wallahu’alam Bisshowab.

Sumber :
1.       Wawasan Al-Qur’an, Tafsir Maudhu'i atas Pelbagai Persoalan Umat, Dr. M. Quraish Shihab, M.A.
2.       Syaamil Al-Qur’an The Miracle 15 in 1
3.       http://www.republika.co.id/


40 Kumpulan Ayat-ayat Al-Qur'an Yang Sering Dibaca Imam



40 Kumpulan Ayat-ayat Al-Qur’an Populer dan Sering Dibaca Imam

Inilah 40 lebih ayat-ayat Al-Quran yang sering dibaca imam dalam solat. Ayat-ayat ini sering dibaca karena kandungan isinya yang bagus. Ini referensi berharga untuk kita hafalakan dan amalkan dalam solat.



1.       Al-Baqarah 2: 183 – 186
2.       Al-Baqarah 2: 254 -257
3.       Al-Baqarah 2: 261 – 265
4.       Al-Baqarah 283 -286
5.       Ali  Imran 18 – 20
6.       Ali Imran 102 – 108
7.       Ali Imran 110 – 115
8.       Ali Imran 133 – 136
9.       Ali Imran 190 – 194
10.   An-Nisa 1 – 6
11.   Al-Maidah 6 -9
12.   Al-An’am 159 – 165
13.   At-Taubah 128 -129
14.   Yusuf 1- 6
15.   Ibrahim 5 – 8
16.   An-nahl 125 -128
17.   Al-Isra’ 1 -10
18.   Al-Isra’ 78 – 85
19.   Al-Kahfi 1 – 13
20.   Al-Kahfi102 – 110
21.   Al-Mu’minun 1 – 16
22.   An-Nur 35 -38
23.   Al- Furqan 72 – 77
24.   Ar-Ruum 1 – 11
25.   Luqman 12 – 19
26.   Al-Ahzab 21 – 24
27.   Al-Ahzab40 -48
28.   Al-Ahzab70 – 73
29.   Yaasin77 -83
30.   Saad 71 – 88
31.   Az-Zumar  71 – 74
32.   Fusilat30 – 35
33.   Al- Fath 1- 6
34.   Al-fath27 -29
35.   Al-hujurat 1 – 6
36.   Al-mujadalah 9 – 11
37.   Al-hasyr 18 – 24
38.   Al-Saff 10 – 14
39.   Al-Jumu’ah 9 – 11
40.   Al-Munafiqun 9 – 11
41.   At-taghabun 11 – 18

42.   Attahrim 8-12

































Senin, 11 April 2016

10 Keutamaan Ilmu Daripada Harta
Berikut ini adalah penuturan dari sahabat Ali bin Abi Thalib RA tentang keutamaan Ilmu daripada Harta:
  1.  Ilmu adalah warisan para Nabi dan Rasul, sedangkan harta adalah warisan dari Fir’aun dan Qarun;
  2. Ilmu akan menjaga kita, sedangkan harta, kitalah yang harus menjaganya;
  3. Semakin banyak ilmu semakin banyak orang yang menyayangi dan menghormati orang yang berilmu, sedangkan semakin banyak harta semakin banyak musuh dan orang yang iri kepadanya;
  4. Ilmu jika dikeluarkan malah akan bertambah, sedangkan harta jika dikeluarkan akan semakin berkurang;
  5.  Pemilik ilmu akan dihormati dan mendapat sebutan yang baik, sedangkan pemilik harta sering dicemooh dan mendapat julukan yang buruk;
  6. Ilmu tidak ada pencurinya sedangkan harta banyak pencurinya;
  7.  Pemilik ilmu akan diberi syafaat di hari kiamat kelak sedangkan pemilik harta akan dihisabsemua hartanya oleh Allah SWT.
  8.  Ilmu akan kekal selamanya, sedangkan harta kan habis suatu saat nanti;
  9.  Pemilik ilmu akan dijunjung tinggi dengan kualitas manusianya, sedangkan pemilik harta akan dijunjung tinggi sesuai kuantitas hartanya;
  10.  Ilmu akan menyinari pemiliknya sehingga hatinya menjadi lembut, sedangkan harta akan menggelapkan hati pemiliknya sehingga hatinya menjadi keras dan hidupnya tidak tenteram;


Demikianlah keutamaan Ilmu daripada Harta. Marilah kita menjadi penuntut Ilmu yang selalu bersemangat. Amin.

Senin, 14 Maret 2016


Belajar Untuk Menghargai Ujian
                Dalam setiap prosess belajar disuatu lembaga pendidikan, kita pasti  menemukan ujian yang merupakan salah satu cara dalam evaluasi. Ujian mutlak diperlukan untuk mengetahui apakah suatu pelajaran telah dapat diserap dengan baik atau belum.  Sikap kita yang baik dalam menghadapi ujian adalah, bahwa ujian itu untuk belajar , artinya dengan telah melalui ujian kita dapat tingkatkan belajar lebih dalam lagi. Bukan sebaliknya belajar untuk ujian, yang ini artinya kita hanya akan belajar kalau akan menghadapi ujian.
Jangan anggap ujian sebagai beban yang berat dan menegangkan dan jangan juga menganggap remeh ujian.  Mari kita belajar menghargai ujian dari sebuah pondok pesantren yang punya nama besar. Di bawah ini beberapa contoh sikap para santri di sana dalam menghadapi ujian;
1.       Sebelum mereka mengahadapi ujian baik lisan maupun tertulis, yang mereka lakukan pertama kali adalah meminta doa dari orang tua melalui telepon langsung ke orang tua. Kita yang setiap hari bersama orang tua mungkin lupa melakukannnya. Doa orang tua buat mereka sangat penting yang bisa menyebabkan turunnya keridoan dan pertolongan Allah swt dan salah satu bentuk bakti anak.
2.       Banyak berdoa, menjaga kesehatan dengan makan yang baik dan bergizi dan istirahat yang cukup juga mereka lakukan untuk menjaga kesehatan agar lebih siap menghadapi ujian. Jika kebetulan mereka jatuh sakit, mereka tidak mudah menyerah. Selama masih bisa mengikuti ujian mereka akan terus ikuti ujian sambil istirahat di atas tempat tidur atau dari rumah sakit sekalipun ujian tetap diikuti. Tidak adanya ujian susulan di pondok ini membuat mereka sangat menghargai arti dan nikmat sehat.
3.       Belajar dengan tekun, berusaha untuk memahami materi yang belum dikuasai dengan cara bertanya dan minta diajarkan pada teman atau guru.
4.       Menjunjung tinggi kejujuran dengan cara tidak menyontek dalam ujian. Ditambah lagi model ujian di sana yang hanya mengenal bentuk soal uraian dan tidak mengenal bentuk Pilihan ganda yang memang memudahkan siswa untuk menyontek. Nilai di sana bagus dan jelek adalah hasil sendiri dan nilai yang objektif dan murni.

Itulah beberapa pelajaran yang dapat diambil dari menghargai ujian di sebuah pondok pesantren yang besar. Pantaslah kalau pesantren ini telah menghasilkan alumni yang sukses diberbagai bidang dari ulama, pengusaha, pimpinan ormas, menteri bahkan ketua MPR dan duta besar. Mungkin sebentar lagi akan lahir presiden dari alumni pondiok ini. Pondok yang tahun ini berusia 90 tahun. Pondok ini bernama Darussalam Gontor di Ponorogo Jawa Timur. 

Jumat, 04 Maret 2016

10 Pelebur Dosa

                Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan: dalil-dali dari Al-Qur’an dan As-Sunnah menunjukkan bahwa hukuman atau siksa berbagai dosa bisa hilang karena sepuluh sebab. Inilah sepuluh sebab yang dapat melebur dosa dan siksa itu:
1.       Sebab pertama: Taubat.
Taubat telah disepakati oleh kaum muslimin sebagai pelebur dosa. Dalilnya adalah firman Allah ta’ala dalam surah Az-Zumar ayat 53 yang artinya:
“Katakanlah: “hai hamba-hambaKu yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah yang Maha Pengampun lagi maha Penyayang”.
Allah taala juga berfirman:
“Tidaklah mereka mengetahui, bahwasanya Allah menerima taubat dari hamba-hambanya dan menerima zakat dan bahwasanya Allah Maha Penerima taubat lagi maha Penyayang” (QS. At-Taubah 104).
Begitu pula firman Allah ta’ala :
“dan Dialah yang menerima taubat dari hamba-hambanya dan memaafkan kesalahan-kesalahan” (QS As-Syura 25).
2.       Sebab Kedua: Istigfar (Mohon ampunan pada Allah).
Sebagaimana terdapat dalam hadist shahih, Nabi saw bersabda:
“jika seorang hamba berdbuat dosa, lalu ia berkata: wahai Rabbku, aku betul-betul telah berbuat dosa, ampunilah aku. Rabbnya menjawab, “hambaKu telah mengetahui bahwa ia memiliki Rabb yang Maha Mengampuni dosa dan menghukumi setiap yang berdosa. Aku telah mengampuni hambaku.” Kemudia ia berbuat dosa lainnya, lantas ia pun mengatakan pada Rabbnya, “wahai Rabbku, aku betul-betul telah berbuat dosa lainnya, ampunilah aku.’ Rabbnya menjawab “hambaku telah mengetahui bahwa ia memiliki Rabb yang Maha Mengampuni dosa dan menghukumi setiap yang berdosa. Aku telah mengampuni hambaKu. Lakukanlah sesukanya. (maksudnya: selama ia berbuat dosa lalu bertaubat, maka Allah akan mengampunimu). “kemudian ia berkata seperti itu untuk ketiga atau keempat kalinya.”
Dapat disebut bahwa sebagai pelebur dosa ialah istighfar disertai dengan taubat. Sebagian ulama mengatakan bahwa istighfar tanpa taubat pun dapat melebur dosa. Karena istighfar yang disertai dengan taubat, itulah yang ada pada orang yang ingin bertaubat. Sedangkan istighfar yang tidak disertai taubat, maka ini diapati pada sebagian orang yang beristighfar karena rasa khosyah (takut yang sangat kepada Allah), dan ada pula inabah (rasa ingin kembali kepada Allah). Inilah yang bisa menggugurkan dosa-dosanya.
3.       Sebab Ketiga: Amalan Kebaikan Sebagai Pelebur Dosa.
Amalan kebaikan dapat juga sebagai pelebur dosa sebagaimana firman Allah ta’la:
“dan dirikanlah sembahyang pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada permulaan dari pada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk” (QS Huud ayat 114).
Nabi juga menerangkan dalam hadisnya bahwa dari waktu sholat yang satu ke waktu sholat yang lain, dari jum’at ke jum’at yang lain dan dari Ramadhan ke Ramadhan yang lain dapat menghapuskan dosa diantara keduanya asalkan kita meninggalkan dosa besar. Bahkan Haji yang kita laksanakan dengan baik dan meninggalkan larangan-larangan haji dapat menhapuskan dosa seperti seorang anak yang baru lahir. Dalam hadis yang lain juga disebutkan:
“Keluarga, harta dan anak dapat menjerumuskan seseorang dalam maksiat (fitnah). Namun fitnah itu akan terhapus dengan sholat, shaum, shadaqah, amar ma’ruf (mengajak kebaikan) dan nahi munkar (melarang dari kemungkaran).” (HR BukharI).
4.       Sebab Keempat: Doa sesama Orang Beriman Kepada Lainnya;
Contohnya adalah melalui sholat jenazah, sebagaimana hadist dari Aisyah dan Anas bin Malik, Nabi saw bersabda:
“tidaklah seorang mayit dishalatkan (dengan shalat jenzah) oleh sekelompok kaum muslimin yang mencapai 100 orang, lalu semuanya member syafaat (mendoakan kebaikan untuknya), maka syafaat (doa mereka) akan diperkenankan.” Ada juga hadist Nabi yang menyatakan mayit yang dishalatkan oleh 40 orang yang tidak berbuat syirik, maka Allah akan memperkenankan doa dari orang yang menshalatkan.
5.       Sebab Kelima: Amalan Kebaikan Yang Ditujukan Untuk si Mayit
Contohnya adalah sedekah. Amalan sedekah ini bermnfaat bagi mayit berdasarkan dalil yang sahih dan tegas srta berdasarkan kesepakatan para ulama. Begitu juga memerdekakan budak dan haji bagi si mayit yang bermanfaat. Dalam QS Muhammad ayat 19 Allah berfirman: “dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempan.”
6.       Sebab Keenam: Syafaat Nabi SAW dan yang lainnya pada Pelaku dosa besar di hari kiamat:
Sebagaimana hadist Nabi SAW : Syafaati li ahlil kabaairi min ummati (Syafaatku untuk pelaku dosa besar dari umatku). Dalam hadist yang lain, Nabi saw juga bersabda ;”separuh dari umatku akan dipilih untuk masuk surge atau akan diberi syafaat. Maka akupun memilih agar umatku diberi syafaat karena itu tentu lebih umum dan lebih banyak. Apakah syafaat itu hanya untuk orang bertakwa? . Tidak, syafaat itu untuk mereka yang terjerumus dalam dosa (besar)”.
7.       Sebab Ketujuh: Musibah di Dunia Yang Menjadi Sebab Terhapusnya Dosa;
Hal ini berdasarkan hadist Sahihain (bukhari dan Muslim): “Tidaklah menimpa seorang mukmin berupa rasa sakit (yang terus menerus), rasa capek, kekhawatiran (pada pikiran), sedih (kerena sesuatu yang hilang), kesusahan hati atau sesuatu yang menyakiti sampaipun duri yang menusuknya melinkan akan dihapuskan dosa-dosanya”
8.    Sebab kedelapan: Ujian di alam kubur, juga siksaan dan kenikmatan yang menjadi sebab terhapusnya berbagai dosa;
9.       Sebab Kesembilan: Mengalami kengerian dan kesulitan pada hari kiamat;
10.   Sebab kesepuluh: Rahmat dan ampunan dari Allah tanpa sebab yang dilakukan oleh hamba;



Kamis, 11 Februari 2016

Jangan Remehkan Sholatmu!
                Sholat yang kita lakukan setiap hari lima waktu, sangatlah berarti dalam hidup kita. Karenannya kita tidak boleh meremehkannya. Dari sahabat Abu Hurairah RA, bahwa sesungghunya Rasulullah SAW bersabda :”Sholat lima waktu, dari (sholat) Jum’at ke (sholat) Jum’at serta dari Ramadhan ke Ramadhan semua menjadi penghapus (dosanya) antara keduanya selama ia tidak terlibat dosa besar .” (HR Muslim).
                Bila kita memahamin dan meyakini kebenaran hadist ini, maka pasti kita tidak akan membiarkan satu kalipun sholat lima waktunya terlewatkan. Bahkan dalam hadis yang lain dikatakan bahwa jika seorang muslim khusyu’ dalam sholatnya, maka ia akan diampuni segenap dosanya di masa lalu.
                “Tidak seorangpun yang bilamana tiba waktu sholat fardu lalu ia membaguskan wudu’nya, khusyu’nya, ruku’nya melainkan sholatnya menjadi penebus dosa-dosanya yang telah lampau, selagi ia tidak mengerjakan dosa yang besar. Dan yang demikian berlaku untuk seterusnya” (HR Muslim).
                Syaratnya asal tidak melakukan dosa besar, maka dosa-dosa yang lalunya pasti diampuni Allah swt. Adapun diantara dosa-dosa besarnya adalah seperti dalam salah satu hadist Nabi saw:
                Dari Abu Hurairah RA bahwa sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda ;”jauhilah tujuh penyebab bencana”. Para sahabat bertanya: “apa itu Ya Rasulullah?”. Beliau menjawab: “Mempersekutukan Allah, sihir, membunuh jiwa yang Allah ta’ala haramkan membunuhnya kecuali dengan alas an yang benar, memakan harta anak yatim, memakan riba’, desersi (lari) dari medan jihad, serta menuduh wanita mu’minah yang memelihara diri sebagai melakukan perbuatan keji” (HR Muslim).
                Untuk menghapus dosa-dosa besar ini tidaklah cukup dengan sholat lima waktu, kita harus melakukan “taubatan Nasuha”. Maka dari itu, kita harus berusaha untuk sekuat tenaga kita menjauhkan diri dari dosa-dosa besar. Dan kita juga tidak boleh membiasakan melakukan dosa-dosa kecil. Dan tentunya kita tetap menjaga dan mendrirkan sholat lima waktu. Insya Allah sholat kita dapat menghapus dosa-dosa kecil kita. Jadi, jangan pernah remehkan sholat lima waktu yang kita jalankan.  Wallahu a’lam bishowab.